Bacaan I
LSM DAN NEGARA
Philip Eldridge
Ikhtisar bacaan
LSM
memang memiliki signifikasi politik. Hampir semua LSM cenderung mengadopsi
profil yang menekan karakter non-politik. LSM telah menjadi saluran absah bagi
partisipasi sosial dan politik yang sebelumnya telah dibendung oleh pemerintah.
LSM, pada khususnya akan cenderung lebih menyukai “aksi” dari pada “teori”.
Pada pemikiran politik barat, politik berkaitan sepenuhnya dengan negara. Dalam
konteks pembangunan Indonesia ,
negara dan bangsa telah mencakup keseluruhan masyarakat sipil. Dampak
aktivitas-aktivitas LSM sangat krusial dalam menentukan signifikasi politik
mereka. Ini akan terlihat dalam jangka panjang dan secara tak langsung, namun,
bisa juga sebaliknya. LSM memiliki dampak langsung terhadap proses pembentukan
kebijaksanaan pemerintah dan opini publik di berbagai sektor.
Pada
tahun-tahun terakhir ini semakin banyak perhatian diberikan pada aktivitas
mendidik dan memobilisasi masyarakat yang berkaitan dengan ekologi dan hak
asasi manusia, terutama dalam hubungannya dengan kasus-kasus penggusuran dan
perampasan tanah. Struktur fleksibel yang dimiliki oleh LSM ini menyediakan
sarana yang memungkinkan untuk menghindari kontrol birokratik belebihan
terhadap modal dan melancarkan tanggungjawab publik. LSM harus menyeimbangkan
bahaya ketergantungan terhadap bantuan asing. Ketergantungan terhadap
bantuan-bantuan asing tampaknya akan melenyap hanya melalui proses yang sangat
lambat.
Pengaturan
yang dikenakan terhadap LSM sebelum tahun 1985 ditujukan terhadap penyaluran
dan asing, dengan LSM-LSM lokal sebagai pihak yang paling terpengaruh karena
ketergantungan mereka pada bantuan asing. Di keluarkannya UU Keormasan, telah
menempatan organisasi-organisasi sosial Indonesia sebagai obyek peraturan
dengan potensi pengaruh yang besar. UU Keormasan memungkinkan pemerintah untuk
menindak keras organisasi-organisasi yang aktivitasnya dinilai mengancam
stabilitas dan kesatuan nasional.
Terdapat
tiga jenis umum pendekatan yang dilakukan berbagai LSM/LSPM dalam hal
penjalinan hubungan dengan pemerintah Indonesia . Pendekatan pertama,
Kerjasama Tingkat Tinggi : menekankan kerjasama dalam program-program
pembangunan pemerintah. Pendekatan kedua, Politik Tingkat Tinggi : pengembangan
gagasan berdasarkan kerangka berfikir teori sosial radikal, yang digabung
dengan kritik terhadap falsafah dan praktek orde baru. Kegiatan kelompok ketiga
menekankan peningkatan kesadaran dan kesadaran akan hak.
LSM/LSPM
telah membangun forum dan jaringan tersendiri tanpa peraturan dan keanggotaan
formal. Jaringan LSM dapat dibedakan sebagai sektoral, regional, dan nasional.
Jaringan LSM sektoral dipandang oleh sejumlah pihak sebagai sangat terbuka bagi
kontrol dan pengaruh pemerintah. Di pihak lain, upaya pembentukan forum
regional masih sangat terbatas geraknya. LSM/LSPM sejauh ini berakhir dengan
kesia-siaan. Ketiganya berperan memperkuat masyarakat sipil melalui berbagai
strategi mereka untuk merangsang pembentukan kelompok otonom. Ketiganya
bersifat ambivalen dalam pendekatan struktur negara. Sementara gerakan LSM
telah banyak menyumbang bagi penguat demokratis yaitu 1) sintesa efektif antara
corak gerak pembangunan dan mobilitas, 2) interaksi antara aktivitas ditingkat
mikro dan makro, 3) rekonsiliasi dari perbedaan-perbedaan, 4) debirokratisasi
yang lebih luas dari hubungan LSM/LSPM serta memadukan gerakan kooperatif
dengan otonomi kelompok kecil. http://ipb.ac.id/
Komentar
Posting Komentar